Aku masih ingat saat pertama kali belajar JavaScript beberapa tahun lalu. Awalnya, aku kira bahasa pemrograman ini hanya dipakai untuk membuat website jadi lebih interaktif saja. Misalnya, menampilkan menu saat tombol diklik, membuat slider gambar, atau memberikan efek tertentu pada halaman.

Tapi, ternyata penggunaannya jauh lebih luas. Yang paling menarik dari JavaScript adalah dia bisa digunakan di dua bagian dalam pengembangan website, yaitu frontend dan backend. Bahasanya sama, tapi tugas yang dikerjakan bisa cukup berbeda.

JavaScript di Frontend

Frontend adalah bagian website yang langsung kita lihat dan gunakan. Jadi, saat kita membuka sebuah website dan melihat tombol, menu, formulir, animasi, atau berbagai elemen lainnya, bagian tersebut termasuk bagian frontend.

JavaScript di sini biasanya digunakan untuk membuat halaman menjadi lebih interaktif. Contohnya, saat kita mengklik tombol “Lihat Detail”, informasi tambahan langsung muncul tanpa harus membuka halaman baru. Atau ketika mengisi formulir, website bisa langsung memberi tahu kalau ada data yang belum lengkap, dan sebagainya.

Sederhananya, JavaScript di frontend membantu membuat website tidak sekadar tampil, tapi juga bisa merespons tindakan pengguna.

JavaScript di Backend

Berbeda dengan frontend, backend bekerja di balik layar. Bagian ini tidak langsung terlihat oleh pengunjung website. JavaScript bisa digunakan di backend dengan bantuan runtime seperti Node.js. Tugasnya bisa berkaitan dengan memproses data, menjalankan logika aplikasi, mengatur autentikasi, sampai terhubung dengan database.

Misalnya, saat kita login ke sebuah website. Form login memang terlihat di frontend, tapi proses untuk memeriksa apakah username dan password sesuai biasanya dilakukan di backend.

Jadi, meskipun sama-sama menggunakan JavaScript, area kerjanya berbeda.

Mana yang Harus Dipelajari?

Menurutku, tidak perlu langsung memikirkan mana yang lebih bagus karena keduanya punya fungsi masing-masing. Kalau ingin membuat tampilan dan interaksi website, frontend adalah bagian yang perlu dipahami. Setelah itu, belajar backend bisa membuka pemahaman tentang bagaimana data dan proses di balik website bekerja.

Bahkan, ada istilah fullstack developer untuk developer yang mempelajari keduanya. Buat yang baru mulai belajar pemrograman, memahami perbedaan frontend dan backend bisa membantu menentukan langkah belajar berikutnya. Dari sini, JavaScript juga jadi terasa lebih luas daripada sekadar bahasa untuk membuat tampilan website menjadi lebih interaktif.

Untuk kamu yang ingin belajar JavaScipt untuk Frontend dan Backend, di DUMET School tersedia paket kursus Fullstack JavaScript Developer. Kamu akan belajar mulai dari dasar sampai berhasil membuat aplikasi berbasis website! Segera hubungi learning support kami untuk informasi yang lebih detail ya 🙂

Semoga artikel Perbedaan JavaScript untuk Frontend dan Backend bermanfaat! Sampai jumpa di artikel yang selanjutnya.