Kamu pernah nggak sih buka website terus langsung tutup lagi cuma karena tulisannya bikin sakit mata? Entah terlalu kecil, terlalu ramai, atau jenis font-nya susah dibaca. Padahal isi websitenya bagus, tapi semua jadi sia-sia karena pilihan font yang nggak tepat.

Itulah kenapa tips font website jadi hal penting yang sering disepelekan, terutama buat pemula yang baru belajar bikin website. Banyak yang fokus ke warna, gambar, atau layout, tapi lupa kalau font itu ibarat suara dari sebuah tampilan. Salah pilih font, pesan yang mau disampaikan malah jadi nggak nyampe.

Tim DUMET School pernah dapat project membantu teman desain website portofolionya. Semuanya udah oke: warnanya pas, fotonya menarik, loading-nya cepat. Tapi dia pakai font dekoratif yang mirip tulisan tangan di semua bagian, termasuk isi artikelnya. Hasilnya? Orang jadi malas baca. Dari situ kami sadar, font bukan sekadar estetika, tapi juga soal kenyamanan dan komunikasi.

Nah, biar kamu nggak salah langkah juga, DUMET School rangkum tips font website yang bisa kamu ikuti sebelum pilih font untuk website-mu.

1. Utamakan Keterbacaan

Font yang cantik tapi bikin sakit mata bukanlah pilihan yang bijak. Pilih font yang mudah dibaca, apalagi kalau digunakan untuk isi konten utama seperti artikel atau deskripsi produk. Font seperti Roboto, Open Sans, atau Lato banyak dipakai karena bentuknya bersih dan nyaman di mata.

Kalau kamu pengen pakai font dekoratif, sebaiknya hanya untuk judul atau bagian tertentu aja. Jangan sampai semua teks pakai font hias yang bikin orang bingung baca.

2. Sesuaikan dengan Karakter Brand

Setiap website pasti punya karakter atau vibe yang mau ditampilkan. Website perusahaan hukum tentu beda nuansanya dengan website toko mainan anak. Makanya, font juga harus nyambung sama branding.

Kalau websitemu serius dan profesional, pakai font yang formal dan tegas. Tapi kalau kamu bikin website untuk kreator atau komunitas, bisa pilih font yang lebih santai dan playful.

3. Jangan Gunakan Terlalu Banyak Font

Mungkin kamu tergoda pakai banyak font karena semua kelihatan keren. Tapi ingat, terlalu banyak jenis font justru bikin tampilan website jadi berantakan dan nggak konsisten. Idealnya, cukup dua atau maksimal tiga jenis font: satu untuk judul, satu untuk isi, dan satu lagi untuk aksen (kalau perlu).

Konsistensi font bikin website kamu terlihat lebih rapi dan profesional.

4. Perhatikan Ukuran dan Spasi

Kadang bukan jenis font-nya yang bikin nggak nyaman, tapi ukuran dan spasinya. Pastikan ukuran hurufmu cukup besar untuk dibaca di berbagai perangkat, terutama di smartphone. Jangan lupa juga atur line-height alias jarak antarbaris supaya teks nggak terlihat terlalu rapat.

Tips simpel: teks isi biasanya nyaman dibaca di ukuran 16px dengan line-height sekitar 1.5–1.6.

5. Tes di Berbagai Perangkat

Font yang kelihatan oke di laptop kamu, belum tentu terlihat sama di HP orang lain. Sebelum kamu finalisasi desain, coba tes dulu tampilan font-nya di berbagai ukuran layar. Pastikan semua elemen tetap terbaca dan nggak berubah bentuk.

Kamu juga bisa manfaatkan web-safe fonts atau gunakan layanan seperti Google Fonts yang sudah dioptimalkan untuk tampil bagus di semua browser.

Kesimpulan

Font itu lebih dari sekadar gaya tulisan. Dia punya peran besar dalam membuat pengunjung betah, menyampaikan pesan dengan jelas, dan membangun identitas visual sebuah website. Lewat tips font website di atas, kamu bisa mulai lebih peka dalam memilih dan mengatur font sesuai kebutuhan desainmu.

Kalau kamu pengen belajar lebih dalam soal desain website yang kekinian, termasuk pemilihan font, layout, dan user experience, kamu bisa pelajari semuanya di paket kursus frontend developer DUMET School. Dari nol sampai bisa bikin website profesional, semua diajarin langkah demi langkah.